EPIDEMIOLOGI DAN SURVEI KESEHATAN LINGKUNGAN
EPIDEMIOLOGI
DAN SURVEI KESEHATAN LINGKUNGAN
Nama : Iim Alif Nugraha
NIM : CMR0170100
1.
Ruang Lingkup Epidemiologi
Berikut
ini terdapat beberapa ruang lingkup epidemiologi, terdiri atas:
- Masalah kesehatan sebagai subjek dan
objek epidemiologi
Epidemiologi
tidak hanya sekedar mempelajari masalah-masalah penyakit-penyakit saja, tetapi
juga mencakup masalah kesehatan yang sangat luas ditemukan di masyarakat.
Diantaranya masalah keluarga berencana, masalah kesehatan lingkungan, pengadaan
tenaga kesehatan, pengadaan sarana kesehatan dan sebagainya. Dengan demikian,
subjek dan objek epidemiologi berkaitan dengan masalah kesehatan secara
keseluruhan.
- Masalah kesehatan pada sekelompok
manusia
Pekerjaan
epidemiologi dalam mempelajari masalah kesehatan, akan memanfaatkan data dari
hasil pengkajian terhadap sekelompok manusia, apakah itu menyangkut masalah
penyakit, keluarga berencana atau kesehatan lingkungan. Setelah dianalisis dan
diketahui penyebabnya dilakukan upaya-upaya penanggulangan sebagai tindak
lanjutnya.
- Pemanfaatan data tentang frekuensi
dan penyebaran masalah kesehatan dalam merumuskan penyebab timbulnya suatu
masalah kesehatan
Pekerjaan
epidemiologi akan dapat mengetahui banyak hal tentang masalah kesehatan dan
penyebab dari masalah tersebut dengan cara menganalisis data tentang frekuensi
dan penyebaran masalah kesehatan yang terjadi pada sekelompok manusia atau masyarakat.
Dengan memanfaatkan perbedaan yang kemudian dilakukan uji statistik, maka dapat
dirumuskan penyebab timbulnya masalah kesehatan.
2.
Penelitian Survei
Survei
merupakan suatu aktivitas atau kegiatan penelitian yang dilakukan untuk
mendapatkan suatu kepastian informasi (seperti : jumlah orang, persepsi atau
pesan-pesan tertentu), dengan cara mengambil sampel dari satu populasi dan
menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpul data yang pokok.
Jenis
survei, antara lain:
1.
Jenis survei secara umum, ada 2 yaitu:
a.
Survei yang lengkap, yaitu yang mencakup seluruh populasi atau elemen-elemen
yang menjadi objek penelitian. Survei tipe ini disebut sensus.
b.
Survei yang hanya menggunakan sebagian kecil dari populasi, atau hanya
menggunakan sampel dari populasi. Jenis ini sering disebut sebagai sample
survey method.
2.
Jenis survei secara ilmu penelitian, yaitu:
a.
Penelitian Exploratif (Penjajagan): Terbuka, mencari-cari, pengetahuan peneliti
tentang masalah yang diteliti masih terbatas. Pertanyaan dalam studi penjajagan
ini misalnya : Apakah yang paling mencemaskan anda dalam hal infrastruktur di
daerah Kalbar dalam lima tahun terakhir ini? Menurut anda, bagaimana cara
perawatan infrastruktur jalan dan jembatan yang baik?
b.
Penelitian Deskriptif : Mempelajari masalah dalam masyarakat, tata cara yang
berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi, sikap, pandangan, proses yang
sedang berlangsung, pengaruh dari suatu fenomena; pengukuran yang cermat
tentang fenomena dalam masyarakat. Peneliti menegmbangkan konsep, menghimpun
fakta, tapi tidak menguji hipotesis;
c.
Penelitian Evaluasi : mencari jawaban tentang pencapaian tujuan yang digariskan
sebelumnya. Evaluasi disini mencakup formatif (melihat dan meneliti pelaksanaan
program), Sumatif (dilaksanakan pada akhir program untuk mengukur pencapaian
tujuan);
d.
Penelitian Eksplanasi (Penjelasan) : menggunakan data yang sama, menjelaskan
hubungan kausal antara variabel melalui pengujian hipotesis;
e.
Penelitian Prediksi : Meramalkan fenomena atau keadaan tertentu;
f.
Penelitian Pengembangan Sosial : Dikembangkan berdasarkan survei yang dilakukan
secara berkala: Misal : Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Kalbar,
1998-2003;
3.
Masalah Penelitian
Menurut
Notoatmodjo (2002), masalah penelitian secara umum dapat diartikan sebagai
suatu kesenjagan (gap) antara yang seharusnya dengan apa yang terjadi
tentang sesuatu hal, atau antara kenyataan yang ada atau terjadi dengan yang
seharusnya ada atau terjadi serta antara harapan dan kenyataan.
Jenis-Jenis
Masalah Dalam Penelitian
Masalah
dalam penelitian menurut Sugiono (2019) dapat dikategorikan berdasarkan tiga
jenis
1.
Permasalahan Deskriptif
Permasalahan
deskriptif merupakan permasalahan dengan variabel mandiri baik hanya pada satu variabel atau lebih
(variabel yang berdiri sendiri). Dalam penelitian ini, peneliti tidak membuat
perbandingan variabel yang satu pada sampel yang lain, hanya mencari hubungan
variabel yang satu dengan variabel yang lain. Contoh permasalahan deskriptif :
Seberapa tinggi minat baca dan lama belajar rata-rata per hari murid-murid
sekolah di Indonesia? Seberapa besar efektivitas model pembelajaran jigsaw
terhadap prestasi belajar siswa ?
2.
Permasalahan Komparatif
Permasalahan
ini merupakan rumusan masalah penelitian yang membandingkan keberadaan satu
variabel atau lebih pada dua atau lebih sampel yang berbeda pada waktu yang
berbeda. Contoh :
Adakah
perbedaan prestasi belajar antara murid dari sekolah A dan sekolah B ?
(variabel penelitian adalah prestasi belajar pada dua sampel sekolah A dan
sekolah B).
Adakah perbedaan pemahaman terhadap materi listrik antara siswa di sekolah
formal dengan siswa homeschooling?
3.
Permasalahan Asosiatif
Merupakan
rumusan masalah penelitian yang bersifat menanyakan hubungan antara dua
variabel atau lebih. Terdapat tiga bentuk hubungan, yaitu :
a)
Hubungan simetris
adalah
suatu hubungan antara dua variabel atau lebih yang kebetulan munculnya bersama.
Contoh perumusan masalahnya adalah sebagai berikut:
- Adakah hubungan antara warna rambut
dengan kemampuan memimpin negara?
- Adakah hubungan antara jumlah payung
yang terjual dengan jumlah murid sekolah?
b)
Hubungan kausal
Hubungan kausal adalah hubungan yang
bersifat sebab akibat. Jadi disini ada variabel independen (variabel yang
mempengaruhi) dan dependen (dipengaruhi), contoh:
- Adakah pengaruh pendidikan orang tua
terhadap prestasi belajar anak? (pendidikan orang tua variabel independen
dan prestasi belajar variabel dependen).
- Seberapa besar pengaruh kurikulum,
media pendidikan dan kualitas guru terhadap kualitas SDM yang dihasilkan
dari suatu sekolah? (kurikulum, media, dan kualitas guru sebagai variabel
independen dan kualitas SDM sebagai variabel dependen).
c)
Hubungan interaktif/ resiprocal/ timbal balik
Hubungan interaktif adalah hubungan yang
saling mempengaruhi. Di sini tidak diketahui mana variabel independen dan
dependen, contoh:
- Hubungan antara motivasi dan prestasi
belajar anak SD di kecamatan A. Di sini dapat dinyatakan motivasi
mempengaruhi prestasi tetapi juga prestasi dapat mempengaruhi motivasi.
- Hubungan antara makan di pagi hari
dengan kecerdasan siswa.
4.
Studi Penilaian Risiko Kesehatan Lingkungan
Studi
penilaian risiko kesehatan lingkungan atau yang juga dikenal dengan
Environmental Health Risk Assessment (EHRA) adalah studi untuk memahami kondisi
fasilitas sanitasi dan perilaku-perilaku yang berisiko pada kesehatan
masyarakat. Data yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk
pengembangan program sanitasi termasuk advokasi di
kabupaten/kota sampai dengan kelurahan. Data yang dikumpulkan dari
studi EHRA akan digunakan Pokja Kabupaten/Kota sebagai salah satu bahan untuk
menyusun Buku Putih, penetapan area beresiko dan Strategi Sanitasi Kabupaten/Kota
(SKK).
Studi
EHRA berfokus pada fasilitas sanitasi dan perilaku masyarakat, seperti:
a. Fasilitas sanitasi yang diteliti
mencakup:
1. Sumber air minum,
2. Layanan pembuangan sampah,
3. Jamban,
4. Saluran pembuangan air limbahrumah
tangga
b.
Perilaku yang dipelajari adalah yang terkait dengan higinitas dan sanitasi
dengan mengacu kepada STBM:
1. Buang air besar
2. Cuci tangan pakai sabun,
3. Pengelolaan air minum rumah tangga,
4. Pengelolaan sampah dengan 3R
5. Pengelolaan air limbah rumah tangga
(drainase lingkungan)
Tujuan
dan Manfaat Studi EHRA bertujuan untuk mengumpulkan data primer, untuk
mengetahui :
1.
Gambaran kondisi fasilitas sanitasi dan perilaku masyarakat yang beresiko
terhadap kesehatan lingkungan
2.
Informasi dasar yang valid dalam penilaian Risiko Kesehatan Lingkungan
3.
Memberikan advokasi kepada masyarakat akan pentingnya layanan sanitasi.
Manfaat:
Hasil studi digunakan sebagai salah
satu bahan penyusunan
Buku Putih Sanitasi Kabupaten/Kota dan
Strategi Sanitasi Kabupaten/Kota (SSK).
5.
Penentuan Area Studi Penilaian Risiko Kesehatan Lingkungan
Penentuan
area studi penilaian risiko kesehatan lingkungan bertujuan untuk menetapkan
Desa/Kelurahan Lokasi Area Studi, Menetapkan Jumlah dan Nama Desa/Kelurahan
terpilih sebagai Target Area Studi, dan Menetapkan RT/RW dan Jumlah Responden
untuk tiap Desa/Kelurahan Target Area Studi.
Untuk
menetapkan desa/kelurahan sebagai Area Studi EHRA bisa dengan cara
(bisa dipilih salah satu sesuai dengan kondisi/kebijakan sampling
yang akan digunakan):
a. Menetapkan
seluruh desa/kelurahan sebagai Area Studi EHRA
b. Menetapkan
desa/kelurahan dengan jumlah tertentu atau dengan kriteria tertentu sebagai
Area Studi EHRA, misalnya: 25% dari seluruh desa/kelurahan yang ada
di kabupaten/kotaatau diprioritaskan pada desa/kelurahandi wilayah
perkotaan sesuai dengan RencanaTata Ruang Wilayah,
c.Menetapkan
jumlah responden/sampel tertentu yang akan diambil untuk seluruh
wilayah kabupaten/ kota, misalnya : 500 responden/sampel.
6.
Metodologi Pengumpulan Data
Jenis
sumber data adalah mengenai dari mana data diperoleh. Apakah data diperoleh
dari sumber langsung (data primer) atau data diperoleh dari sumber tidak
langsung (data sekunder).
Metode
Pengumpulan Data merupakan teknik atau cara yang dilakukan untuk mengumpulkan
data. Metode menunjuk suatu cara sehingga dapat diperlihatkan penggunaannya
melalui angket, wawancara, pengamatan, tes, dkoumentasi dan sebagainya.
Sedangkan
Instrumen Pengumpul Data merupakan alat yang digunakan untuk mengumpulkan
data. Karena berupa alat, maka instrumen dapat berupa lembar cek list,
kuesioner (angket terbuka / tertutup), pedoman wawancara, camera photo dan
lainnya.
Adapun tiga teknik pengumpulan data
yang biasa digunakan adalah angket, observasi dan wawancara.
1.
Angket
Angket
/ kuesioner adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara
memberikan seperangkat pertanyaan atau pernyataan kepada orang lain yang
dijadikan responden untuk dijawabnya.
2.
Observasi
Obrservasi
merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang tidak hanya mengukur sikap
dari responden (wawancara dan angket) namun juga dapat digunakan untuk merekam
berbagai fenomena yang terjadi (situasi, kondisi). Teknik ini digunakan bila
penelitian ditujukan untuk mempelajari perilaku manusia, proses kerja,
gejala-gejala alam dan dilakukan pada responden yang tidak terlalu besar.
a.
Participant Observation
Dalam
observasi ini, peneliti secara langsung terlibat dalam kegiatam sehari-hari
orang atau situasi yang diamati sebagai sumber data.
Misalnya
seorang guru dapat melakukan observasi mengenai bagaimana perilaku siswa,
semangat siswa, kemampuan manajerial kepala sekolah, hubungan antar guru, dsb.
b.
Non participant Observation
Berlawanan
dengan participant Observation, Non Participant merupakan observasi yang
penelitinya tidak ikut secara langsung dalam kegiatan atau proses yang sedang
diamati.
Misalnya
penelitian tentang pola pembinaan olahraga, seorang peneliti yang menempatkan
dirinya sebagai pengamat dan mencatat berbagai peristiwa yang dianggap perlu
sebagai data penelitian.
Kelemahan
dari metode ini adalah peneliti tidak akan memperoleh data yang mendalam karena
hanya bertindak sebagai pengamat dari luar tanpa mengetahui makna yang
terkandung di dalam peristiwa.
Alat
yang digunakan dalam teknik observasi ini antara lain : lembar cek list, buku
catatan, kamera photo, dll.
3.
Wawancara
Wawancara
merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui tatap muka dan tanya
jawab langsung antara pengumpul data maupun peneliti terhadap nara sumber atau
sumber data.
Wawancara
pada penelitian sampel besar biasanya hanya dilakukan sebagai studi pendahuluan
karena tidak mungkin menggunakan wawancara pada 1000 responden, sedangkan pada
sampel kecil teknik wawancara dapat diterapkan sebagai teknik pengumpul data
(umumnya penelitian kualitatif)
Wawancara
terbagi atas wawancara terstruktur dan tidak terstruktur.
- Wawancara terstruktur artinya
peneliti telah mengetahui dengan pasti apa informasi yang ingin digali
dari responden sehingga daftar pertanyaannya sudah dibuat secara
sistematis. Peneliti juga dapat menggunakan alat bantu tape recorder,
kamera photo, dan material lain yang dapat membantu kelancaran wawancara.
- Wawancara tidak terstruktur adalah
wawancara bebas, yaitu peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang
berisi pertanyaan yang akan diajukan secara spesifik, dan hanya memuat
poin-poin penting masalah yang ingin digali dari responden.
7.
Penilaian Risiko Kesehatan lingkungan
Risiko
adalah bahaya, akibat atau konsekuensi yang dapat terjadi akibat sebuah proses
yang sedang berlangsung atau kejadian yang akan datang. Bahaya (hazard) terdiri
dari senyawa biologi, kimia atau fisik yang berpotensi menyebabkan gangguan
kesehatan. Sedangkan risiko (risk) merupakan fungsi peluang terjadinya gangguan
kesehatan gangguan kesehatan dan keparahan (severity) gangguan kesehatan oleh
karena suatu bahaya.
Risiko lingkungan merupakan risiko terhadap kesehatan manusia yang disebabkan oleh karena faktor lingkungan, baik lingkungan fisik, hayati maupun sosial-ekonomi-budaya.
Komentar
Posting Komentar